Konstelasi pemahaman terhadap keyakinan dari suatu agama sifat awalnya berpangkal dari hasil turunan langsung orang tua, sedikit sekali yang tumbuh dari hasil pemikiran pribadi melalui konteks spiritualisme, karena mereka beranggapan menyimpang dari doktrin orang tua merupakan hal yang tabu dan bahkan menjadi durhaka, namun dalam perjalanan hidup masing-masing individu pasti pernah mempunyai pemikiran yang berbeda terhadap keyakinan dari orang tua yang sifatnya terpendam, tapi lambat laun pemikiran tersebut terkubur seiring jalannya waktu, sehingga tanpa disadari nilai doktrinlah yang membentuk perilaku kita terhadap suatu agama.
Manusia akan dengan mudah terprovokasi apabila keyakinan dasarnya mendapat kritikan yang sifatnya menyudutkan dan akan membenarkan keyakinan yang dia miliki dengan membabi buta “pokoknya yang lain salah”.
Doktrin keyakinan warisan dari orang tua tersebut mengikat sangat kuat, tetapi hanya sebatas persoalan ZAT dari SANG PENCIPTA dengan berbagai bentuk penghormatannya, sedangkan dalam menjalani hidup berproses dengan sistem yang berlaku umum yaitu menurut prinsip yang ada dan kalau dicermati dengan hati bersih dan lapang, mereka akan menyadari yang demikian sebenarnya belum tentu sesuai dengan keyakinan dasarnya.
Padahal semua keyakinan suatu agama, akan memandang bahwa hidup ini harus damai artinya damai kedalam dan damai keluar sehingga bisa terwujud kehidupan saling kasih sayang dan saling hormat menghormati. Kalau tidak demikian dipastikan menjadi perang keluar dan perang kedalam artinya tidak akan ada kedamaian dalam hidup. Dengan sesama nya cekcok, dengan yang lain keyakinan ribut, demikian hakikat yang dimaksud dalam kitab suci : “SEPANJANG HIDUP ADALAH AZAB”, tetapi sayang kita tidak pernah menyadari yang demikian itu adalah azab.
Sungguh sebenarnya tatanan hidup yang diridhoi atau yang diharapkan Sang Pencipta adalah tatanan hidup yang mampu mewujudkan kehidupan SEJAHTERA bagi seluruh umat manusia. (wa rodhitu lakum islam madina).
Inilah yang seharusnya kita perjuangkan bersama untuk dapat merumuskan satu bentuk tatanan yang benar-benar dapat memenuhi harapan Sang Pencipta, karena agama yang kita anut sebenarnya diperuntukkan untuk semua manusia dengan satu tujuan yaitu hidup sejahtera dimuka bumi ini, jika kita mampu merumuskan tatanan hidup yang demikian dipastikan “PERBEDAAN ITU AKAN MENJADI RAHMAT”, namun sayang beribu sayang semua keyakinan yang ada belum pernah terpikirkan untuk merumuskan dan menata kehidupan guna mencapai kesejahteraan untuk semua manusia dengan kata lain rahmatan lilalamin, kita lebih asyik dan khusyuk berhubungan dengan Sang Pencipta mengesampingkan hubungan antar manusia, sehingga kita merasa paling benar dan akibatnya mencaci orang lain satu hal yang ringan untuk diucapkan.
Mari kita wujudkan kebersamaan dalam bingkai kebhinekaan.👇 https://eramilenial.data.blog/wp-content/uploads/2025/07/wp-1752138955810.pdf
Penjelasan lebih detail klik tautan dibawah ini.👇https://eramilenial.data.blog/wp-content/uploads/2024/05/wp-1715065907810.pdf
.