Definisi klasik, yang dimaksud dengan Perekonomian sebuah negara adalah sistem yang mengatur kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi barang serta jasa di dalam wilayah negara tersebut.
Mengacu pada pengertian klasik tersebut, maka sistem “perdagangan” dalam bentuk apapun merupakan penyimpangan dari “distribusi” karena di dalam perdagangan disisipkan variabel keuntungan yang ditetapkan secara subjektif, sehingga tidak heran kalau pasar dikatakan oleh Nabi Muhammad tempat berkumpulnya syetan (manusia berkarakter syetan) artinya disini pelaku pasar banyak yang tidak benar karena ada kepentingan pribadi, sementara “distribusi” variabelnya hanya biaya.
Definisi perekonomian diatas kalau dikaitkan dengan pasal 33 ayat 1 UUD 45 naskah asli:
“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”.
Interpretasi perekonomian pada ayat diatas yaitu sistem pengaturan produksi, distribusi termasuk perdagangan serta konsumsi dalam pemerintahan negara Indonesia, disusun sebagai bentuk usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan yaitu seperti mengelola sebuah rumah tangga yang ideal. Karena kedudukan sebagai usaha bersama, maka proses produksi, distribusi termasuk perdagangan hingga konsumsi variabel biayanya diawasi oleh pemerintah secara ketat.
Sedangkan “Pengelolaan bersama” ini merupakan faktor kegiatan operasional perusahaan, dimana petunjuk pelaksanaannya ditetapkan pemerintah berdasarkan atas asas gotong royong yang diatur melalui penetapan undang-undang yang ditetapkan DPR melalui persetuan DPA sebagai tenaga ahli terapan. Dan Presiden sebagai eksekutor pelaksana undang-undang.
Atas dasar interpretasi tersebut, maka perekonomian Indonesia tidak menganut sistem perekonomian liberal, dimana sistem produksi, distribusi termasuk perdagangan serta konsumsi mengikuti kemauan swasta (baik individu maupun korporasi) melalui mekanisme pasar bebas. Kebijakan sistem perekonomian makro yang dijalankan oleh pemerintah saat ini bertentangan dengan Pasal 33 ayat 1 UUD 45.
Sedangkan istilah “bentuk usaha bersama” didukung dan dipertegas oleh ayat 2, yang berbunyi:
“Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara”.
Cabang-cabang produksi tersebut ditetapkan oleh pemerintah melalui penetapan undang-undang, sehingga cabang produksi tersebut merupakan usaha bersama milik negara seperti yang dimaksud pada ayat 1, yaitu BUMN/BUMD dan badan usaha lainnya yang dioperasionalkan berdasar atas asas kekeluargaan, dimana pemegang saham mayoritas adalah seluruh rakyat Indonesia. Hubungan keterkaitan ayat 1 dan 2 mutlak dibaca demikian termasuk ayat 3. Cabang-cabang produksi yang dimaksud pada ayat 2 hingga saat ini belum pernah ditetapkan melalui undang-undang oleh pemerintah.
Cabang-cabang produksi yang ditetapkan oleh negara didukung ayat 3 yaitu:
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
Dimaksud dengan bumi adalah tanah yg kita pijak, dimaksud dengan “Air” meliputi daratan yang digenangi air termasuk lautan, sedangkan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, yaitu isi kandungan di dalam perut bumi dan lautan, semuanya dikuasai oleh negara untuk kepentingan bersama, sehingga tidak ada kepemilikan pribadi maupun kepemilikan korporasi, kepada pribadi dan koorporasi diberikan hak pakai kepada individu dan hak pengelolaan kepada korporasi yang tidak ada batas akhirnya sepanjang memenuhi syarat perundang-undangan.
Jadi ayat 3 ini selaras dengan konsepsi Dīnul Islam, dimana semua yang ada adalah MILIK ALLAH yang dikelola bersama oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Sedangkan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No: 5/1960, yang disahkan tanggal 24 September 1960 bertentangan dengan Pasal 33 ayat 3, karena draf usulan awal UUPA diajukan ke DPR oleh Menteri Agraria Soenarjo pada tahun 1958, dimana pada saat itu yang berlaku UUDS 1950, seharusnya draf tersebut tidak boleh dilanjutkan untuk ditetapkan, karena terjadi perubahan konstitusi negara setelah dinyatakan kembali ke UUD 1945 pada tanggal 5 Juli 1959, sehingga secara otomatis produk hukum selama berlangsungnya UUDS 1950 menjadi “BATAL” termasuk DPR hasil pemilu tahun 1955. UUPA No: 5/1960 yang ditetapkan oleh DPR-GR cacat hukum, sebab DPR-GR ditunjuk dan ditetapkan oleh Presiden melanggar UUD 45. Dan seharusnya pada massa transisi tidak boleh ada kebijakan baru sebelum MPR, DPR dan DPA terbentuk menurut UUD 1945 (Aturan Peralihan pasal 2&4), tetapi sayangnya Presiden Soekarno melakukan pengkhianatan dengan mengabaikan “Pasal Aturan Peralihan“ ini, untuk tujuan pribadi yaitu mempertahankan kedudukannya sebagai Presiden di masa transisi (Pasal III Aturan Peralihan).
Selanjutnya pasal 33 ayat 1, pemahamannya diselewengkan pada masa ORDE BARU, pernyataan: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Pengertiannya dipersempit dan dibelokkan menjadi semodel bentuk badan usaha yang dipopulerkan dengan nama KOPERASI. Sementara perekonomian negara dijalankan berdasarkan sistem Liberal, akibatnya pasal 33 ayat 2 dan 3 tidak mampu diinterpretasikan dan dijalankan sesuai isi yang terkandung di dalam ayat tersebut.
Seandainya Pasal 33 ayat 1,2, 3 dan Pasal 23 ayat 3 dijalankan, maka penjajahan yang bertumpu pada sistem ekonomi kapitalisme dapat dihapus di bumi pertiwi, yang demikian sesuai dengan cita-cita kemerdekaan yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 1.
Pasal 23 ayat 3 : “Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang“.
Pasal ini mengatur tentang penetapan harga nilai tukar mata uang asing ditetapkan oleh undang-undang melalui pengajuan DPR kemudian dikaji oleh DPA sebagai tenaga ahli, sehingga penetapan HARGA NILAI MATA UANG ASING bukan ditentukan oleh “PASAR” yang dibangun oleh kapitalis.
Atas uraian tersebut diatas, apabila Pasal 33 ayat 1,2,3 dan Pasal 23 ayat 3 benar-benar dijalankan, maka dipastikan mampu meruntuhkan dominasi sistem perekonomian Liberalis dan Komunis, yang bertumpu pada sistem ekonomi kapitalis, inilah yang ditakutkan Blok Barat.
Interpretasi Pasal 33 ayat 1,2,3 dan Pasal 23 ayat 3, merupakan dekonstruksi sistem perekonomian yang digagas Bung Hatta untuk membumi hanguskan sistem ekonomi kapitalis, sistem tersebut telah dipingit oleh penguasa arogan selama 81 tahun.
Pemahaman para spiritualis tentang DANA AMANAH, sebenarnya sudah ada dan sudah termaktub di dalam Pasal 33 ayat 3, tinggal bagaimana kita bisa memanage berdasarkan aturan yang diatur dalam sistem ekonomi menurut Pasal 33 ayat 1 yang dijalankan sesuai dengan ayat 2 nya, maka apabila pasal tersebut diundangkan dan dijalankan dipastikan mampu menenggelamkan sistem ekonomi yang berbasis kapital yang bertumpu pada konversi emas, sedangkan yang dimaksud “Dana Amanah” bukan uang atau emas yang terpendam di dalam bumi melainkan kekayaan alam yang kita punya sebagai penggerak sistem perekonomian yang dipingit selama ini yang diibaratkan seperti Satrio Piningit, untuk segera dimunculkan dengan mengundangkan Pasal 33, sehingga menjadi kebijakan perekonoman negara dalam menyongsong Indonesia adil dan makmur.
Kondisi semrawut saat ini berawal dari pengabaian “PASAL ATURAN PERALIHAN” pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, efek domino dari pengabaian pasal tersebut, mengakibatkan sistem tata kelola negara semakin menjauh dari cita2 kemerdekaan yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Solusi perbaikannya, tidak ada jalan lain kecuali KEMBALI ke UUD 45 ASLI, dengan mejalankan Aturan Peralihan pasal 4, yaitu membentuk MPR, DPR dan DPA menurut UUD 45 asli.
Analisis kerusakan sistem ketatanegaraan saat ini, klik tautan dialog AI(Dola) dibawah ini.👇
https://www.dola.com/thread/xXbJm2TSumEF55ncN
Lebih terperinci baca tautan buku dibawah ini. https://play.google.com/store/books/details/NH_AGI_TRISULA_POLITIKA_SISTEM_TATANAN_SEJAHTERA?id=V9V9EQAAQBAJ







