ALTERNATIF PILIHAN MAKNA DINUL ISLAM

Sebuah masukan, untuk pembaca yg mau diajak berpikir ilmiah

Dibawah ini merupakan hadits tentang Rukun Islam :

بُنِيَ الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَحَجِّ الْبَيْتِ, وَصَوْمِ رَمَضَانَ

الإسْلاَمُ =
alif lam pada kata “Islam” menunjukkan bahwa kata tersebut bermakna khusus atau marifat, menjadi khusus karena ada kata tertentu sebagai sandarannya yg di mahdzuf (tersembunyi) yaitu kata “dinan”, sehingga perkataan lengkapnya :              بُنِيَ (دِينًا) الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ. Dan kata “Dinul Islamtersebut merupakan sasaran tujuan atau misi yang ingin dicapai Nabi Muhammad untuk membangun kehidupan indah di muka bumi, kesalahan pemahaman pengertian Dinul Islam akan mengaburkan sasaran tujuan.

Sehingga pemahaman hadis diatas ada 2 alternatif pemahaman, yaitu :

1. Apabila Dinan diartikan agama maka maknanya :
“Dibina Agama Islam atas 5 urutan” atau Rukun Agama Islam ada 5 urutan”, karena dinan nya mahdzuf maka menjadi “Rukun Islam ada 5 perkara”, yaitu Syahadat, Shalat, Shaum, Zakat dan Haji. Kelima rukun tersebut merupakan ibadah wajib yaitu dikerjakan berpahala tidak dikerjakan berdosa, seperti yang dijalani oleh umumnya manusia yang menganggap Agama Islam sama dengan Dinul Islam.

Dari 5 ibadah wajib tersebut melahirkan berbagai cabang ilmu (Tauhid, Aqidah, Tasauf, Fiqih, Muamalah dll.) serta berbagai macam buku sebagai penjelasan dan perincian dari Rukun Islam sebagai sumber pijakan dasar untuk tujuan mempertebal keimanan dalam penyempurnaan ibadah wajib tersebut. Prinsip kelima ibadah wajib tersebut merupakan bentuk keyakinan mutlak yang sifatnya dogmatis.

2. Apabila Dinan diartikan Tatanan, maka  maknanya :
“Dibina Tatanan Islam atas 5 sudut pembinaan” atau “Pembinaan Tatanan Islam ada 5 sudut”, karena Dinan di mahdzuf, maka maknanya menjadi “Pembinaan Islam ada 5 sudut”, yaitu : Syahadat, Shalat, Shaum, Zakat dan Haji. Kelima sudut pembinaan tersebut merupakan bentuk konsep pembinaan manusia menjadi mukmin, yaitu pembinaan manusia untuk menjadi manusia yang hidup berpandangan dan bersikap dengan Al-Qur’an menurut Sunnah RasulNya atau lebih singkat pembinaan manusia menjadi hidup dengan Al-Qur’an, sehingga  tekanannya pada pembinaan diri bukan mengumpulkan investasi pahala untuk bisa mendapatkan surga. Selanjutnya pembinaan untuk mencapai mukmin dijabarkan secara garis besar yang terbagi dalam Iman Pendidikan dan Iman Juang dalam bentuk perincian yg bernilai objektif ilmiah, karena kedudukan AlQur’an la raiba fihi sehingga harus mampu dibuktikan secara ilmiah.

Pengambilan makna Dinan yg berbeda pada kata “Dinul Islam” yg terdapat pada hadits diatas, mengakibatkan satu konsekwensi yg jauh berbeda dalam pemahaman tentang manifestasi kehidupan atau kemantapan keyakinan yg dijalani oleh mereka masing2., sehingga Dinul Islam diartikan Agama Islam mempunyai manifestasi pemahaman keyakinan tersendiri terhadap pemahaman tentang Islam. Dinul Islam diartikan Tatanan Islam juga mempunyai manifestasi pemahaman keyakinan tersendiri pula, sehingga diantara keduanya menjadi tidak sama walaupun berangkat dari pedoman kitab yg sama yaitu AlQur’an.

Dinan diartikan “Agama” mempunyai pendukung dan Dinan diartikan “Tatanan” juga mempunyai pendukung, diantara keduanya tidak bisa dikompromikan akibat sistem keyakinan yang mereka bangun berbeda, sehingga apabila dilihat dari masing2 sudut dari pilihan yg berbeda, mereka itu saling tuding dgn perkataan SESAT.

Namun sebenarnya secara objektif berdasarkan kaidah bahasa kedua arti tersebut diatas tidak bisa dipertanggung jawabkan secara pas karena MENGABAIKAN TEORI BAHASA, baik yg diartikan “Agama Islam” maupun yg diartikan “Tatanan Islam” dilihat dari sudut bahasa Indonesia kedua makna tersebut tidak bisa digolongkan sebagai kata majemuk (mudhaf wa mudhafun ilay). Karena kata “Dinul Islam” bentuknya mudhaf wa mudhafun ilay maka apabila ditranslit ke dalam bahasa Indonesia maknanyapun harus senilai.

Dengan demikian kedua makna tersebut diatas tidak memenuhi kaidah bahasa, sehingga maknanya menjadi tidak pas bukan salah. Mereka mengambil pilihan maknanya sesuai selera yang disampaikan oleh ahli AlQur’an dari kalangan mereka masing-masing yang dianggap benar, yang akhirnya membentuk dogma kepada para pengikutnya.

Selanjutnya dari 2 alternatif yg sudah populer tersebut diatas, ada alternatif lain yaitu “Din diartikan Tatanan” dan “Islaaman diartikan Sejahtera”, sehingga Dinul Islam sama dengan TATANAN SEJAHTERA. Kata “Tatanan Sejahtera” bisa digolongkan sebagai kata majemuk, maka pemahaman Dinul Islam menjadi bermakna “Tatanan yg mampu mewujudkan kehidupan sejahtera” dengan demikian Dinul Islam merupakan bentuk sistem tatanan negara yang mampu mewujudkan kehidupan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Dinul Islam sebagai satu sistem tatanan sejahtera pernah diwujudkan menjadi kenyataan hidup indah pada zaman Rasulullah SAW.

Sama seperti halnya 2 alternatif makna diatas maka Dinul Islam dimaknai Tatatanan Sejahtera mempunyai konsekwensi kehidupan yg berbeda dan masing2 berjalan pada koridor pemahaman yg berbeda, sehingga konsekwensi dalam menjalani kehidupan pasti berbeda, seperti yang dijabarkan dalam hadits:

بُنِيَ (دِينًا) الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ :
Dibangun Sistem Tatanan Sejahtera atas lima proses pembangunan, yaitu :
Syahadat, shalat, shaum, zakat dan Haji

Lima proses pembangunan diatas, isi penjabaran nya sangat jauh berbeda dg dua alternatif pilihan diatas, krn disini tekanannya bukan pada teori melainkan langsung penjabaran dan aktualisasi dalam gerak pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara, proses nya berjalan sesuai aturan atau konsititusi dari bentuk Sistem Tatanan Sejahtera yang diatur dalam sebuah undang2. Pada zaman Rasulullah diatur dengan menjalankan Konstitusi Madinah (Piagam Madinah), tetapi sangat disayangkan Piagam Madinah sudah diporak porandakan atau dimusnahkan pada zaman Khalifah Yazid bin Muawwiyah sehingga gambaran untuk menduplikasi model kehidupan berbangsa dan bernegara sudah hilang bahkan musnah tanpa bekas, yang tersisa hanya cerita fiksi nan indah tentang kehidupan Dinul Islam pada masa Rasulullah. Konstitusi Madinah ini sebenarnya hampir senilai dengan UUD-45.

Dengan demikian alternatif pilihan makna Dinul Islam = Tatanan Sejahtera tidak mendudukkan Syahadat, Shalat, Zakat dan Haji sebagai bentuk ritual ibadah wajib seperti yg kita pahami dalam Agama Islam atau pembinaan diri menjadi mukmin pada pemahaman Tatanan Islam, melainkan satu proses yang berkelanjutan untuk dapat mewujudkan kehidupan sejahtera adil dan makmur melalui penetapan kebijakan negara yang berdasarkan konstitusi untuk mengatur kehidupan pribadi secara menyeluruh.

Oleh karena itu ukuran sukses tegaknya Dinul Islam adalah terwujudnya kehidupan sejahtera adil dan makmur di muka bumi bukan dilihat dari mentereng nya bangunan masjid sementara jamaahnya banyak yang miskin bahkan tidak punya tempat tinggal. Hal demikianlah yang dilupakan manusia padahal tujuan utama Nabi Muhammad datang ke muka bumi adalah untuk membangun kehidupan hasanah serta menjalin kehidupan saling kasih sayang dan saling mensejahterakan sehingga tidak ada yang lapar disisi kenyang.

Selanjutnya dari 3 alternatif pemahaman tentang makna Dinul Islam diatas yang berbeda satu dg yg lainnya, maka bagi mereka yg mempunyai sudut pandang berpikir yg objektif ilmiah, dipastikan akan mampu menilai mana yg memenuhi nilai kebenaran?

Kesalahan mengambil alternatif pilihan makna Dinul Islam dipastikan, apa yang kita bangun/kerjakan tidak akan memenuhi harapan sunnah rasul, bahkan yang kita bangun menjadi sia-sia, yang kondisinya sama dengan membangun mimpi.

Rukun pembangunan Dinul Islam, klik tautan dibawah ini.👇 https://eramilenial.data.blog/2025/01/26/rukun-pembangunan-dinul-islam/

https://eramilenial.data.blog/2024/07/17/pengertian-dinul-islam-sesuai-kaidah-bahasa-2

Dialog Gemini dan NH Agi :
Pengkhianatan konstitusi dan perbaikan sistem dasar tata negara yg senilai dengan masa Khulafaur Rasyidin.👇
https://g.co/gemini/share/26c187634182

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai